Islamic Transnationalism: Symptom or Threat?
Literally, transnationalism means a movement or a religious ideology of political Islam that is only just holding its religious principles and undermines the culture and traditions of the nation-state.
http://www.associatedcontent.comarticle/2155097/islamic_transnationalism_symptom_or.html
Kebudayaan Paska W.S Rendra
Ismatillah A. Nu’ad*
Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. (W.S Rendra, Megatruh, 1997)
Masyarakat Indonesia kehilangan budayawan besar, seorang begawan budaya Willibrordus Surendra Broto Rendra (1935-2009) atau yang dikenal sebagai W.S Rendra yang menghembuskan nafas terakhir pada Kamis (6/8) sekitar pukul 21:30 WIB. Selama ini, Rendra terkenal lewat karya-karya sajak, drama dan puisi. Yang paling kontroversial seperti Sajak Sepotong Lisong (ITB 1977) dimana pernah diberangus pemerintah Orde Baru, dan naskah dramanya yang populer berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), sedangkan puisinya yang berkesan berjudul Megatruh (1997) seperti telah dikutip di atas. (more…)
Mbah Surip dan Semiotika Kejujuran
Ismatillah A. Nu’ad*
Pelantun lagu tak gendong, Mbah Surip (60) telah berpulang ke rumah persinggahan terakhirnya. Seperti berita kematian (obituary) lazimnya, banyak orang tercengangah saat mendengar meninggalnya Mbah Surip pada Selasa (4/8/2009) pagi menjelang siang pukul 10:30 WIB. Padahal Mbah Surip baru sekejap menikmati hasil jerih payahnya sebagai seorang seniman jalanan.
Dua lagunya, tak gendong dan bangun tidur, laris manis terpasang sebagai nada sambung pribadi (NSP) di hampir setiap handphone. Seperti dikabarkan berita entertainment, omset Mbah Surip mencapai milyaran rupiah dari NSP lagu tak gendong dan bangun tidur. Saat diwawancarai salah satu TV swasta, Mbah Surip mengaku baru bisa membeli rumah berkat omset lagunya itu. Tahun ini memang tahun hokinya Mbah Surip. Meski Tuhan telah mengatur skenario bagi perjalanan hidupnya. (more…)
Lembaga Survei dalam Sorotan
Ismatillah A. Nu’ad*
Dewasa ini, tak sedikit lembaga survei di Indonesia eksis melakukan polling-polling baik untuk Pemilu Legislatif maupun Pilpres. Sebut saja seperti LSI, LP3ES, LSN, Indo Barometer dan LRI. Begitu pula pada Pemilu-pemilu lokal untuk memilih Gubernur maupun Bupati, lembaga survei selalu berada di garda depan untuk melakukan polling. Pendeknya, semua lembaga survei naik daun seiring peranannya yang selain bisa dikatakan baru, namun juga diminati oleh tim-tim sukses baik dari Parpol atau calon-calon pemimpin.
Popularitas lembaga survei itu juga diikuti dengan kontroversi yang menyelimutinya. Katakan, misalnya, masyarakat luas menganggap lembaga itu tidak netral dari politic of interest tim sukses untuk memenangkan pemilihan. Selain itu, kinerja lembaga survei dianggap hanya menjadi the opinion makers, yang hendak mempengaruhi pemilih kepada salah satu Parpol maupun calon pemimpin. Tak ayal, lembaga survei bukan malah menumbuhkan iklim demokratisasi publik, melainkan menebar kebohongan publik lewat hasil-hasil survei maupun polling yang dibuatnya. (more…)
Serangan Fajar Politik Maulid

sumber gambar:www.beritajakarta.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Menjelang Pemilu legislatif pada awal April mendatang, sudah banyak cara yang dilakukan para calon anggota legislatif (caleg) untuk menarik simpati massa, dari yang formal dan tidak melanggar aturan sampai melakukan tindakan yang kurang lazim. Dari yang berkesan, sampai yang kurang atau tidak berkesan sama sekali. Momen peringatan Maulid Nabi kali ini nampaknya merupakan ladang basah bagi para caleg untuk mempromosikan pencalonan dirinya supaya bisa duduk di kursi legislatif. Para caleg itu biasanya akan mencheck list daftar majlis taklim (atau juga Masjid) yang berada di wilayah pemilihan mereka dan memastikan apakah kedua tempat dimana biasanya kaum muslim menyimpuhkan diri itu akan mengadakan peringatan Maulid. Jika ada sinyal positif, maka para caleg buru-buru membooking panitia penyelenggaranya untuk memastikan kedatangan dirinya, dan dia berani membayar sejumlah materi beserta cinderamata untuk semua hadirin. (more…)
Kopi dan Rokok, Halal atau Haram?
Ismatillah A. Nu’ad*
Karya Syaikh Ihsan Jampes berjudul asli irsyadul ikhwan fi bayanil hukmi syurbul kahwah wal dukhan (petunjuk tentang penjelasan hukum meminum kopi dan merokok) ini merupakan syarah (penjelasan) dari kitab matan (asli/origin) berjudul tadzkiratul ikhwan fi bayanil kahwah wal dukhan (penjelasan tentang kopi dan rokok) karya KH. Ahmad Dahlan.
Karya tadzkiratul ikhwan KH. Ahmad Dahlan itu ditulis dalam bentuk rajaz. Rajaz ialah salah satu jenis syair (nazham). Yang membedakan dengan jenis syair lainnya, rajaz memiliki makna yang mudah dipahami, atau maknanya langsung bisa diterima, tidak bersayap atau memiliki makna ganda yang membutuhkan penafsiran-penafsiran. (more…)
Membongkar Anatomi Separatisme

sumber gambar:hizbuttahrir.co.id
Ismatillah A. Nu’ad*
Pada tiap bulan Agustus, isu separatisme sering mencuat kepermukaan, apalagi, misalnya, dengan beberapa kejadian yang dilakukan oleh aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM), dari kasus pengibaran bendera secara terang-terangan, upacara masyarakat adat papua yang diselingi dengan tarian kemerdekaan, hingga adanya isu bekingan AS terhadap OPM. Pertanyaannya, mungkinkah rentetan kejadian itu memiliki akar yang kuat pada masyarakat Papua sendiri yang menginginkan pemisahan, sehingga patut dirisaukan oleh negara dan bangsa Indonesia, atau hanya sekedar euforia yang dilakukan segelintir oknum, yang tujuannya hanya mengungkit sentimen separatisme. (more…)
Refleksi Kebebasan Beragama

sumber gambar:www.religious-freedoms.org
Ismatillah A. Nu’ad*
INDONESIA sebagai negara-bangsa masih banyak diwarnai ketegangan-ketegangan yang melibatkan agama dan mengabaikan nilai-nilai perbedaan. Kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama ramai mengemuka. Bahkan, kekerasan tersebut juga mencederai kalangan pembela hak kebebasan beragama (human rights defender). Sebaliknya sikap saling toleran nampaknya sangat penting untuk dimunculkan kepermukaan. Laporan akhir tahun 2008 The Wahid Institute yang dikeluarkan kemarin ini, misalnya, menyebutkan sejumlah pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang terjadi, salahnya kurang ada tindakan dari aparat kepolisian sehingga bagi para pelanggar mengulangi lagi tindakan anarkisnya. (more…)
PKS Ads Castrates NU-Muhammadiyah

repro
Ismatillah A. Nu’ad*
The political advertisement on television launched by the Prosperous Justice Party (PKS) to commemorate the Youth Pledge Day last October was considered by the followers of Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah to have stained the reputation and the dignity of the religious organizations’ founding fathers, namely KH Hasyim Asy’ari and KH Ahmad Dahlan. In this regard, the ad was really to political interest in nature. Ideally, if the PKS has a good willingness for showing photographs of the prominent men as the source of inspiration for young generations, it should not base its ad on the figures in the name of party. As consequence the ad was fully littered with political interest. (more…)

Comments Off