FREE MARKET OF IDEAS ___________________________Home

Posted in ads by ismatillah on October 22, 2008
Comments Off

Serangan Fajar Politik Maulid

Posted in discourse by ismatillah on March 19, 2009

sumber gambar:www.beritajakarta.com

sumber gambar:www.beritajakarta.com

Ismatillah A. Nu’ad*

Menjelang Pemilu legislatif pada awal April mendatang, sudah banyak cara yang dilakukan para calon anggota legislatif (caleg) untuk menarik simpati massa, dari yang formal dan tidak melanggar aturan sampai melakukan tindakan yang kurang lazim. Dari yang berkesan, sampai yang kurang atau tidak berkesan sama sekali. Momen peringatan Maulid Nabi kali ini nampaknya merupakan ladang basah bagi para caleg untuk mempromosikan pencalonan dirinya supaya bisa duduk di kursi legislatif. Para caleg itu biasanya akan mencheck list daftar majlis taklim (atau juga Masjid) yang berada di wilayah pemilihan mereka dan memastikan apakah kedua tempat dimana biasanya kaum muslim menyimpuhkan diri itu akan mengadakan peringatan Maulid. Jika ada sinyal positif, maka para caleg buru-buru membooking panitia penyelenggaranya untuk memastikan kedatangan dirinya, dan dia berani membayar sejumlah materi beserta cinderamata untuk semua hadirin. (more…)

Tagged with: , ,

Kopi dan Rokok, Halal atau Haram?

Posted in bookreview by ismatillah on March 4, 2009

cover1Ismatillah A. Nu’ad*

Karya Syaikh Ihsan Jampes berjudul asli irsyadul ikhwan fi bayanil hukmi syurbul kahwah wal dukhan (petunjuk tentang penjelasan hukum meminum kopi dan merokok) ini merupakan syarah (penjelasan) dari kitab matan (asli/origin) berjudul tadzkiratul ikhwan fi bayanil kahwah wal dukhan (penjelasan tentang kopi dan rokok) karya KH. Ahmad Dahlan.

Karya tadzkiratul ikhwan KH. Ahmad Dahlan itu ditulis dalam bentuk rajaz. Rajaz ialah salah satu jenis syair (nazham). Yang membedakan dengan jenis syair lainnya, rajaz memiliki makna yang mudah dipahami, atau maknanya langsung bisa diterima, tidak bersayap atau memiliki makna ganda yang membutuhkan penafsiran-penafsiran. (more…)

Membongkar Anatomi Separatisme

Posted in discourse by ismatillah on February 13, 2009

sumber gambar:hizbuttahrir.co.id

sumber gambar:hizbuttahrir.co.id

Ismatillah A. Nu’ad*

Pada tiap bulan Agustus, isu separatisme sering mencuat kepermukaan, apalagi, misalnya, dengan beberapa kejadian yang dilakukan oleh aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM), dari kasus pengibaran bendera secara terang-terangan, upacara masyarakat adat papua yang diselingi dengan tarian kemerdekaan, hingga adanya isu bekingan AS terhadap OPM. Pertanyaannya, mungkinkah rentetan kejadian itu memiliki akar yang kuat pada masyarakat Papua sendiri yang menginginkan pemisahan, sehingga patut dirisaukan oleh negara dan bangsa Indonesia, atau hanya sekedar euforia yang dilakukan segelintir oknum, yang tujuannya hanya mengungkit sentimen separatisme. (more…)

Refleksi Kebebasan Beragama

Posted in discourse by ismatillah on December 31, 2008

sumber gambar:www.religious-freedoms.org

sumber gambar:www.religious-freedoms.org

Ismatillah A. Nu’ad*

INDONESIA sebagai negara-bangsa masih banyak diwarnai ketegangan-ketegangan yang melibatkan agama dan mengabaikan nilai-nilai perbedaan. Kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama ramai mengemuka. Bahkan, kekerasan tersebut juga mencederai kalangan pembela hak kebebasan beragama (human rights defender). Sebaliknya sikap saling toleran nampaknya sangat penting untuk dimunculkan kepermukaan. Laporan akhir tahun 2008 The Wahid Institute yang dikeluarkan kemarin ini, misalnya, menyebutkan sejumlah pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang terjadi, salahnya kurang ada tindakan dari aparat kepolisian sehingga bagi para pelanggar mengulangi lagi tindakan anarkisnya. (more…)

PKS Ads Castrates NU-Muhammadiyah

Posted in article in english by ismatillah on December 30, 2008

repro

repro

Ismatillah A. Nu’ad*

The political advertisement on television launched by the Prosperous Justice Party (PKS) to commemorate the Youth Pledge Day last October was considered by the followers of Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah to have stained the reputation and the dignity of the religious organizations’ founding fathers, namely KH Hasyim Asy’ari and KH Ahmad Dahlan. In this regard, the ad was really to political interest in nature. Ideally, if the PKS has a good willingness for showing photographs of the prominent men as the source of inspiration for young generations, it should not base its ad on the figures in the name of party. As consequence the ad was fully littered with political interest. (more…)

Tagged with: , , ,

From Pepsi to Hira Cave

Posted in article in english by ismatillah on December 10, 2008

sumber gambar:www.informasihaji.com

sumber gambar:www.informasihaji.com

Ismatillah A. Nu’ad*

For Moslem haji is a special religious service because not everybody can do it. There are material and nonmaterial conditions that have to be fulfilled. In relation with the non material condition it is interesting to focus on the experience of haji Farid Esack, a liberal Moslem who shared his experiences in his work, On Being a Muslim (2002).

One day Esack was lost from his journey to Hira Cave, the historical site where Muhammad the Prophet first received his revelation. The orthodox Saudi government is very strict on permitting people on doing their religious service especially in traditional holy sites that is why there is no road sign that leads to certain places. So Esack could only follow other pilgrims who already knew the road to Hira Cave or as he confessed, just follow the Pepsi cans that scattered all over the steep road to the mouth cave.

(more…)

Tagged with: , , , ,

Teologi Ramah Lingkungan

Posted in discourse by ismatillah on November 14, 2008

sumber gambar:www.edopter.com

sumber gambar:www.edopter.com

Ismatillah A. Nu’ad*

Banyak bencana alam silih berganti menimpa negeri ini, bahkan akibat seringnya terjadi bencana, masyarakat yang sudah merasa skeptik menghadapinya, merasa stres berat, phobia, dan tekanan psikis. Ada fenomena apakah gerangan? Polemik teologi di masyarakat seputar bencana-bencana itupun akhirnya merebak. Tak kurang pula banyak penceramah keagamaan mulai mencari-cari jawabannya, mengapa fenomena bencana itu terus terjadi? Tapi polemik dan jawaban dari semuanya rata-rata menggariskan pada teologi paksaan Tuhan (jabariah), yang menyatakan bahwa Tuhan tengah murka pada penduduk negeri ini yang rajin dan pandai membuat dan memelihara dosa-dosa.

(more…)

Focusing on Islamic Leadership Crisis

Posted in article in english by ismatillah on October 23, 2008

sumber gambar:www.daylife.com

sumber gambar:www.daylife.com

Ismatillah A. Nu’ad*

Bassam Tibi, a liberal Moslem from Lebanon who lives in German said that Islamic civilization was undergoing a disconnection with the modern world in his first published book, The Crisis of Modern Islam (1989). When modernism surrounded the world from all direction, the Moslems were unable to face it, most were not responsive with the modernism, trying to avoid it which eventually lead to resistance. That is why Tibi wrote that Islam was having a crisis for alienating modernism instead of competing to give birth to modernism through Islamic Culture for the progressing era.

(more…)

Fatsoen Beragama Warisan Cak Nur

Posted in biography by ismatillah on October 23, 2008
sumber gambar:sctv/repro

sumber gambar:sctv/repro

Ismatillah A. Nu’ad*

Ethics is to improve our lives, and therefore its principal concern is the nature of human well-being. Aristotle, Nichomacean Ethics

SEKITAR tahun 2001, pada malam itu untuk kesekian kalinya saya mengikuti KKA Paramadina di Hotel Four Season, Kuningan. Ketika itu Nurcholish Madjid (Cak Nur) berkesempatan hadir untuk mengisi kajian sebagai pendamping dari pembicara yang lain. Itulah pertama kali secara pribadi, saya bisa bertemu dan mendengarkan diskusi keagamaan bersama Cak Nur secara langsung. Sebelumnya, saya mengenal Cak Nur lewat tulisan dalam buku-buku karyanya, atau mendengar kebesaran namanya di setiap diskusi akademis menyangkut gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Kesan pertama ketika mengikuti dan mendengarkan Cak Nur dalam diskusi, ia adalah sesosok intelektual yang punya integritas dengan khazanah keislaman yang luas serta selalu direlevansikan dengan dimensi keindonesiaan. Cak Nur adalah tipikal intelektual yang tidak menggurui audiensnya, ia selalu menerima masukan, terbuka dengan pendapat serta pandangan orang lain. Hal terpenting, Cak Nur selalu menggunakan fatsoen (secara sederhana berarti etika) saat mengemukakan pandangan-pandangan keagamaannya.

(more…)