Islam Nusantara 13 Abad Sudah
Buku berjudul “Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara” mengundang antusiasme banyak pihak untuk membacanya. Buku itu dianggap penting, karena memberi kontribusi “penelusuran sejarah” Islam di bumi Nusantara, baik dilihat dari sudut pandang Islam yang disinggungkan dengan persoalan kebudayaan, sosial, politik dan ekonomi (perdagangan), maupun pendidikan. Namun kritikan tak bisa dihindari, terutama datang dari kalangan sejarawan, yang menganggap buku itu tak ditulis secara lebih serius meskipun tebalnya sangat memadai, karena merupakan sekumpulan gagasan banyak penulis didalamnya yang dipaksakan menjadi sebuah karya utuh, sehingga cita rasa keilmiahannya tak terlalu menonjol.
Tapi meski demikian, tujuan penyuntingnya mungkin tak bermaksud ingin memasuki belantara sejarah eksistensi Islam di bumi Nusantara an sich, yang misalnya, ditelusuri dari abad ke-13 sampai abad-abad selanjutnya namun substansinya justru sangat kosong makna. Mungkin yang menjadi pesan utamanya, penyuntingnya bermaksud ingin lebih menonjolkan bahwa Islam di bumi Nusantara semenjak abad ke-13 hingga kini, telah banyak berkiprah membentuk jati-diri keIndonesiaan. KeIndonesiaan tak bisa dilepaskan dengan pembentukan keIslaman yang sudah menyejarah dan mendarahdaging, atau dalam bahasa lain “Islam yang sudah menjadi Indonesia” bukan “Indonesia yang sudah menjadi Islam”. Taufik Abdullah kemudian dalam orasi ilmiahnya pada peluncuran buku itu, buru-buru menepis anggapan, yang menurutnya, mudah-mudahan lahirnya buku itu tidak dimaksudkan sebagai “tambahan dari sekian banyak tulisan yang dengan penuh semangat ingin memberikan tempat yang khusus bagi Islam di atas pentas sejarah Indonesia”, atau istilah yang lebih populer dalam bahasa Taufik Abdullah sebagai budaya “mentalitas-minoritas” dalam politik padahal umat Islam menjadi mayoritas masyarakat Indonesia.
DALAM buku itu menggunakan kata-kata Nusantara, bukan Indonesia, yang berarti menyiratkan sebuah letak geografis yang jauh lebih luas lagi dari pada sekedar Indonesia sebagai nation-state seperti dikenal sekarang ini, dimana Nusantara juga sesungguhnya meliputi bangsa-bangsa Melayu seperti Malaysia, Brunei dan Singapura, maupun juga meliputi wilayah seperti Filipina, Thailand, serta negara-negara Asia Tenggara umumnya. Pemilihan kata Nusantara itu lebih tepat, karena bumi Nusantara diperlakukan sebagai nama wilayah dari satu kesatuan geografis, sedangkan Indonesia adalah sebuah nama negara-bangsa yang tumbuh melalui proses sejarah. Indonesia adalah hasil dari imajinasi yang diperjuangkan. Dengan pemakaian kata Nusantara itu, pemrakarsa buku itu sekaligus telah membantah kebiasaan dalam wacana politik yang selalu memperlakukan Indonesia sebagai warisan nenek moyang, yang telah ada sejak zaman purbakala.
Islam masuk di belahan Nusantara lewat suatu arus perdagangan. Dimana para kabilah dagang dari negeri-negeri Islam baik dari Arab maupun Persia sudah menyilang-budayakan tradisi keagamaan mereka pada masyarakat dimana mereka berlabuh.
Islam mulai masuk dari abad ke-13 itu menandakan gabungan tiga tahap proses Islamisasi di bumi Nusantara. Pertama kemungkinan orang Islam sempat mampir di bumi Nusantara ini. Berita tentang Sriwijaya telah ditemukan dalam laporan Arab dari Abad ke-9, tetapi berita-berita kemudian hanya ulangan saja dari yang pertama. Kedua ditemukannya batu nisan bertuliskan Arab yang bercirikan keIslaman dari abad ke-11 di Leran, Jawa Timur, memberi petanda bahwa waktu itu telah ada sebuah komunitas kecil Islam, selanjutnya kemungkinan Islam berkembang di tanah Jawa barulah dipastikan oleh kumpulan batu nisan di Trowulan (akhir abad ke-14), yang terletak di dekat keraton Majapahit lama. Ketiga barulah bukti epigrafis yang berasal dari akhir abad ke-13 bisa merasa pasti bahwa proses Islamisasi telah bermula. Batu nisan Sultan Malikul Saleh di Pasai adalah bukti yang sahih dari kehadiran sebuah kerajaan yang melakukan konversi keagamaan. Kesaksian itu diperkuat oleh laporan Ibn Batutah yang sempat berkunjung beberapa tahun kemudian di awal abad ke-14. (Taufik Abdullah, Tamasya Sejarah Islam di Nusantara, 2007)
Dari sudut pandang itu, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Islam Nusantara itu sangat moderat, dalam pengertian budaya keagamaannya terlahir jauh dari nuansa kekerasan, karena Islam tidak dibawa dengan jalan imperialisme-kolonialisme. Dari titik itu pula, oleh karena Islam didakwahkan tidak dengan jalan kekerasan, melainkan lewat pendekatan kultural oleh para kabilah dagang itu, maka Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat lokal. Islam pertama kali berkembang dan bersinggungan lewat kerajaan-kerajaan Nusantara. Pola pendekatan penyebaran keagamaan seperti itu dianggap lebih efektif (bottom-up), yaitu melalui jalur kekuasaan terlebih dulu, lalu baru kemudian disebarkan kepada masyarakat luas.
Pola penyebaran Islam pertama kali, bukan tanpa hambatan-hambatan, terutama ketika dibenturkan dengan kebudayaan dan tradisi lokal. Karena itu, misalnya, strategi penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo, harus merelevansikan dakwah keagamaannya dengan budaya dan tradisi lokal. Karena jika tidak dilakukan cara seperti itu, maka kemungkinan Islam akan sulit diterima sebagai budaya dan tradisi baru agama masyarakat lokal. Pola “sinkretisasi” yang dilakukan Wali Songo itu, misalnya, diimplementasikan dalam dunia perwayangan yang cerita-ceritanya dominan berasal dari tradisi dan ajaran Hindu. Oleh sebab itu, jika kita mengamati dunia Wayang di masa sekarang ini, di situ ada peran Punakawan (para pembanyol) yang masing-masing diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Petruk (Farouk/Arab), Gareng (Gei Eng/China) dan Bagong (penduduk lokal). Lewat Punakawan itulah banyolan-banyolan yang diselingi dengan petuah-petuah keagamaan Islam dimunculkan dan menjadi alat doktrinasi bagi masyarakat lokal. Padahal Punakawan itu di negeri tempat kelahiran cerita-cerita itu, di India, tidak dikenal. Di situlah letak kecanggihan strategi Wali Songo dalam mengasimilasi dakwah keagamaannya sehingga dapat diterima masyarakat lokal.
TANTANGAN di masa kini, Islam seperti sudah kehilangan makna sejarahnya ketika banyak fenomena masyarakat muslim yang kini mulai meninggalkan tradisi dan kebudayaan masa lalu seperti yang sudah diajarkan para pembawanya dahulu.
Paling tidak ada tiga hal penting, terjadinya pergeseran itu dapat dilihat. Pertama munculnya sebuah kecenderungan dimana Islam identik dengan budaya-budaya kekerasan. Padahal Islam Nusantara tak mengenal watak keagamaan yang keras. Watak keagamaan yang keras itu relevan jika dikaitkan dalam masyarakat Timur Tengah yang pola penyebaran dakwah keagamaannya dahulu dilakukan dengan cara agresi militer lewat para dinasti-dinasti Islam. Kedua kecenderungan purifikasi keagamaan yang dominan, dimana sekarang ini banyak terjadi penyesatan diantara satu kelompok masyarakat Islam dengan masyarakat Islam lainnya, ini sangat berbahaya. Ketiga kecenderungan dalam masyarakat Islam yang ingin memisahkan antara Islam sebagai sebuah agama dan tradisi serta budaya lokal. Padahal justru Islam bisa diterima oleh karena apresiasinya yang begitu tinggi dalam merespon tradisi dan kebudayaan lokal.
Jika Islam masih ingin tetap bertahan dan mendarahdaging dengan keIndonesiaan atau keNusantaraan, seharusnya masyarakat muslim di masa kini harus lebih banyak lagi mengapresiasi tradisi dan budaya lokal, dan bukannya malah meninggalkannya. Dengan begitu antara keIslaman dan keIndonesiaan atau keNusantaraan menjadi satu kesatuan utuh yang tak dapat dipisahkan. Islam Nusantara tak kehilangan identitasnya, karena Islam di situ menjadi Indonesia, dan bukannya Indonesia yang menjadi Islam. Jika Indonesia yang menjadi Islam, itu akan sangat sulit, karena akan mendapat tantangan dan hambatan yang berat dan hal itu sudah dibuktikan dalam arus sejarah masa lalu. Tapi jika Islam yang menjadi Indonesia, itu yang akan mudah diterima, bahkan bisa tersebar secara lebih luas lagi dan hal itu sudah dibuktikan dalam sejarahnya. Karena itu, kita harus berfikir ulang, jika ada sebuah kecenderungan dan keinginan untuk mengIslamkan Indonesia dengan mencerabut akar-akar tradisi dan budaya keIndonesiaan itu sendiri dan menggantikannya dengan unsur-unsur lain, yang misalnya, diambil dari tradisi dan budaya Timur Tengah. Hal itu tak akan bisa terejawantah, karena Islam Indonesia atau Nusantara memiliki karakternya yang khas, yang berbeda dengan model keIslaman di negara-negara lainnya. Wallahu ‘alam
Ismatillah A. Nu’ad, penulis buku “Fundamentalisme Progresif: Menuju Era Baru Dunia Islam”.

Ismed, hebat ya tulisannya sering di muat di Sinar Harapan. Tulisan saya sudah tidak laku lagi di sana. Padahal saya sering kirim ke sana Lho.
Masih ingat sama saya tho? Saya temannya Ilham Mundzir. Kita pernah ketemu di kost Ilham beberapa tahun yang lalu.
Salam.
Sukses selalu.
Kantata punya siapa?