Fundamentalisme Progresif, Menuju Era Baru Dunia Islam
Ismatillah A. Nu’ad*
Akhir-akhir ini, dunia Islam mendapat stigma buruk karena lahirnya Osama bin Laden, Imam Samudra, Amrozi, Dr Azhari, Noordin M Top, dan lain sebagainya. Mereka melakukan aksi terorisme di balik jubah Islam. Mereka mendeklarasikan diri sebagai kekuatan yang beroposisi, bahkan menjadi musuh Barat. Sebaliknya, Barat pada detik itu menganggap bahwa telah muncul sebuah kekuatan baru, neofundamentalisme, yang terlahir dari rahim dunia Islam pascarevolusi Islam di Iran.
Semenjak itu wacana fundamentalisme-Islam marak, terutama pascatragedi 11 September, bom Bali I, dan bom Kuningan, Jakarta. Islam sebagai agama dan muslim sebagai komunitas umat terimbas isu terorisme dan menjadi terpuruk. Di dunia Barat, stigma jelek dari kaum orientalis terhadap Islam menjadi relevan kembali. Bahwa peradaban Islam semenjak semula dibangun lewat jalan kekerasan, dengan pedang dan Alquran, suatu peradaban perang yang ekspansionis.
Buku ini ingin mengatakan bahwa gerakan liberal, sesungguhnya lahir dari fundamentalisme-Islam. Yang membedakan dengan stigma mainstream ialah, bahwa gerakan liberal tidak mengaktualisasikan ke-(fundamentalisme)-annya
Buku setebal 208 halaman ini, mengulas jika seseorang yang mengaktualisasi nilai-nilai fundamental agamanya hanya dengan paham-paham kebencian dan kekerasan, justru dapat menimbulkan kekacauan dalam orde mutakhir dunia beragama. Dari komunitas agama mana pun, apakah muslim, Kristen, ataupun Yahudi. Dengan melihat kasus konflik Israel-Palestina, misalnya, sesungguhnya mereka yang berperang (baik dari pihak Israel atau Palestina) adalah sama-sama orang fundamentalis (hlm 6-16). Atau ketika sikap Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush, memerangi terorisme tetapi dengan menggunakan dalih-dalih keagamaan, maka Bush seorang fundamentalis-radikal (hlm 13).
Analisis Ismatillah A Nu’ad dalam buku ini, seperti analisis Tariq Ali dalam karyanya The Clash of Fundamentalism, yang menganggap bahwa telah terjadi benturan antarkelompok fundamentalis (hlm xv). Presiden Bush yang memerangi kelompok fundamentalis-radikal-Islam, sesungguhnya adalah dari kelompok fundamentalis-radikal pula. Jadi maraknya isu terorisme beserta deklarasi perang untuk menanggulanginya, sesungguhnya merupakan benturan antarkelompok fundamentalis-radikal.
Melihat kenyataan bahwa pemahaman terhadap fundamentalisme selalu bermuara pada stigma negatif, sudah saatnya di dunia Islam fundamentalisme mesti diselamatkan dari stigma terorisme, radikalisme, dan ekstremisme. Bahkan fundamentalisme dapat melahirkan muslim-muslim yang liberal-progresif dalam berpikir dan dapat mengaktualisasi sikap-sikap keberagamaannya ke praksis sosial-politik-kebudayaan seperti turut memperjuangkan HAM, demokratisasi, civil society, dan lain sebagainya.
Kehadiran buku ini sangat penting di tengah-tengah pandangan keagamaan yang sempit dan superfisial. Islam hanya dijadikan sebagai alat legitimasi radikalisme. Di tengah hegemoni pandangan bahwa Islam hanya menciptakan gerakan fundamentalisme-radikal, buku ini menawarkan suatu sudut pandang lain, gerakan liberal juga lahir dari fundamentalisme-Islam. Yang membedakannya, gerakan liberal menganggap bahwa pemahaman fundamental terhadap Islam, mesti dijadikan suatu spirit yang dinamis, sehingga Islam tak kehilangan makna di tengah perubahan zaman yang terus bergulir.
leave a comment