Home

Moralitas Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib

Posted in biography by ismatillah on October 20, 2008
repro

repro

Ismatillah A. Nu’ad*

Pemutaran perdana film Gie di Jakarta pada 14 Juli menyedot perhatian banyak aktivis mahasiswa. Bahkan sebelum film itu diluncurkan, diskursus tentang Catatan Seorang Demontsran kembali menyemarakkan diskusi-diskusi lesehan di kalangan aktivis. Lembaran-lembaran kisah dalam buku itu di reimagining, suatu pembacaan yang mungkin telah ditelaah empat atau lima tahun silam.
Satu hari sebelum peluncuran film Gie, terbetik di hati suatu pertanyaan: Apakah film itu benar-benar akan menggambarkan kisah yang otentik dalam Catatan Seorang Demonstran? Terutama gambaran-ideal antara pemikiran Soe Hok Gie dalam buku dan peran Nicholas Saputra yang bermain dalam Gie.
Mungkin si sutradara Riri Riza akan menjawab: Yang dituangkan dalam scene paling tidak ingin menggambarkan hiruk-pikuk sosok aktivis mahasiswa dekade 60-an dengan segala kritisisme dan keresahannya. Komentator yang kritis bisa bilang banyak kisah di film dan di buku Catatan Seorang Demonstran tak sinkron, namun sungguh benar film Gie menunjukan gambaran aktivis Indonesia yang kritis, gigih dalam idealisme dan moralitasnya.


Soe Hok Gie kemudian disandingkan dengan Ahmad Wahib. Keduanya suka menulis (Wahib yang wartawan majalah Tempo dan Gie sang kolomnis suratkabar), keduanya kekeuh dalam idealisme, tak jauh dengan kisah romantisme, dan sama-sama aktivis mahasiswa. Yang mungkin membedakan, jika Wahib bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), meskipun keluar karena alasan perbedaan ideologis, maka Gie menolak bergabung dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PMKRI) karena merasa aktivismenya sebagai mahasiswa tidak harus dimunculkan dengan idiom agama. Gie lebih senang menjadi seorang pengembara yang membela keadilan atas tirani.
Semenjak pertama kali diterbitkan LP3ES pada dekade 80-an, antologi kumpulan keresahan pemikiran Gie dan Wahib sudah memunculkan polemik yang melebar. Pemikiran Wahib dalam Pergolakan Pemikiran Islam tak disukai kalangan fundamentalis-muslim, karena dianggap sesat dan berbahaya. Maka pemikiran Gie, khususnya dalam Catatan Seorang Demonstran, tak disukai penguasa Orde Baru. Dalam bacaan penguasa, Catatan Seorang Demonstran mengajarkan doktrin-doktrin Marxisme-Leninisme yang mengancam ideologi Pancasila.

Kegairahan dan Kegelisahan
Meskipun kedua buku itu sangat kontroversial, namun paling tidak pemikiran-pemikiran di dalamnya banyak menebar virus yang menggairahkan anak-anak muda yang sedang dalam masa pencarian. Jika pemikiran Wahib mengantarkan pada pembacanya suatu diskursus pemikiran keagamaan dan ketuhanan yang liar, tapi mencerahkan. Maka pemikiran Gie mengantarkan pembacanya kepada kegelisahan seorang anak muda yang mencari identitas namun tetap dalam idealismenya sebagai seorang yang memihak dan membela rakyat kecil dari penguasa yang tiranik.
Pada masanya, Gie disinyalir turut berpartisipasi melengserkan kekuasaan Soekarno. Tapi Gie juga tetap kritis pada masa-masa awal pemerintahan Soeharto lewat tulisan-tulisannya di koran. Wahib mengkritik senior-seniornya di HMI karena mungkin senang berhubungan dengan kekuasaan dan ia juga pelontar fikiran-fikiran keagamaan dengan sangat tajam, terutama kepada aktivis HMI yang literal dan taklid pada satu paham keagamaan. Gie mengkritik sahabatnya, Jaka (dalam film diperankan Doni Alamsyah) yang sudah duduk di kursi parlemen.
Apa kamu mampu memperjuangkan suara rakyat ketika kamu takut kehilangan jabatan di parlemen. Kata-kata Gie yang dilontarkan pada Jaka yang baru saja memarirkan mobilnya. Jaka yang pernah jadi teman kuliah Gie, meniti karir politik melalui PMKRI. Dia menawarkan supaya Gie juga masuk ke organisasi mahasiswa itu. Namun Gie menolak dengan dua kata: buat apa? Bagi Gie, aktivisme politik yang ideal justru harus berdemarkasi dengan kekuasaan politik itu sendiri, dan juga dengan jargon agama seperti PMKRI.

Cinta Platonik
Dalam kisah-kisah di buku Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib, ada satu hal yang mungkin tak akan dilewatkan pembacanya: soal perempuan. Dalam film Gie, sang sutradara rupanya jeli melihat persoalan itu. Sosok pacar-pacar Gie dimunculkan di situ, termasuk Ira yang dalam film diperankan Sita RSD.
Banyak analisis di seputar perempuan yang diajukan komentator ketika membaca buku Gie dan Wahib: Jika Wahib bercinta a la platonik, dalam arti mencintai perempuan namun cintanya dipendam perasaan hatinya, Gie bercinta a la Aristotelian, yang perasaan cintanya dituangkan tanpa ada rasa nervous dan tedeng aling-aling. Gie dan Wahib hampir memiliki moralitas yang sama. Keduanya mewakili anak muda religius yang masing-masing menandai jamannya, seperti pepatah Arab: al-Rajul Ibn bi ‘atihi, anak muda adalah penanda dari jamannya.
Seperti kata-kata Soe Hok Gie sendiri, Nasib terbaik pertama adalah tak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Kata-kata itu terungkap tak jauh sebelum Gie menghadapi ajal. Gie meninggal sehari menjelang ulang tahunnya ke-27 ketika mendaki Gunung Semeru. Nasib yang bernas juga dialami Ahmad Wahib, yang meninggal tertabrak motor di depan kantor majalah Tempo. Mungkin itu takdir terbaik dari Tuhan bagi orang-orang baik, seperti pepatah orang baik tak berumur panjang, karena Tuhan mengasihinya.

Ismatillah A. Nu’ad, Peneliti Kantata Research Indonesia.

Tagged with: ,

Leave a Reply