Home

Bahasa Agama dan Penafsiran Wahyu Ilahi

Posted in discourse by ismatillah on October 22, 2008

sumber gambar:islamicidentity.blogspot.com

sumber gambar:islamicidentity.blogspot.com

Ismatillah A. Nu’ad*

Masyarakat religius menganggap spritiualitas yang sejati bersifat sakral dan untouchable. Sehingga baginya, simbol-simbol seperti dalam setiap agama manapun; mengelilingi simbolitas Ka’bah dalam Islam, melakukan ritualitas terhadap suatu yang dianggap suci seperti dilakukan agama Hindu atau Budha, menggunakan simbolitas salib sebagai lambang kesucian seperti dalam Kristen, merupakan pencarian spiritualitas yang sakral itu. (Mircea Eliade, Sacred and Profan, 1989)

Bahasa agama yang tertuang dalam teks-teks suci itu bersifat sakral. Namun meski bersifat sakral bukan berarti “tangan-tangan” manusia tak bisa menjamahnya lewat suatu penafsiran terhadapnya. Justru ketika teks-teks itu mendapat penafsiran, maka di situlah sesungguhnya bahasa agama itu dapat menjadi universal, kontekstual dan relevan sesuai dengan perkembangan sejarah manusia.

(more…)