Home

Teologi Ramah Lingkungan

Posted in discourse by ismatillah on November 14, 2008

sumber gambar:www.edopter.com

sumber gambar:www.edopter.com

Ismatillah A. Nu’ad*

Banyak bencana alam silih berganti menimpa negeri ini, bahkan akibat seringnya terjadi bencana, masyarakat yang sudah merasa skeptik menghadapinya, merasa stres berat, phobia, dan tekanan psikis. Ada fenomena apakah gerangan? Polemik teologi di masyarakat seputar bencana-bencana itupun akhirnya merebak. Tak kurang pula banyak penceramah keagamaan mulai mencari-cari jawabannya, mengapa fenomena bencana itu terus terjadi? Tapi polemik dan jawaban dari semuanya rata-rata menggariskan pada teologi paksaan Tuhan (jabariah), yang menyatakan bahwa Tuhan tengah murka pada penduduk negeri ini yang rajin dan pandai membuat dan memelihara dosa-dosa.


Pandangan teologi jenis itu sebenarnya sangat berbahaya untuk dipelihara dalam Iman masyarakat, karena Tuhan akan dipersalahkan sebagai biang dari segala bencana. Atau dalam bahasa Gottfried Leibniz (Roth, 2003, 151), Tuhan di situ seakan-akan duduk di kursi pesakitan menjadi terdakwa (blaming the God), sebagai akibat terjadinya bencana-bencana di dunia. Meskipun akhirnya, Emmanuel Kant merevisi pandangan-pandangan itu secara lebih rasional lagi dalam Critique of Practical Reason. Kant berpandangan bahwa Tuhan tak patut dipersalahkan atas segala bencana, bahkan kemuliaan dalam eksistensi-Nya tak terpengaruh dengan adanya dosa-dosa atau kebaikan-kebaikan di dunia, manusialah yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi di dunia (blaming the men).

Shifting Theology

Pandangan teologi yang berseberangan dengan jabariah, atau teologi yang lebih menekankan pada kehendak bebas manusia (qadariah), sebetulnya lebih relevan untuk menjelaskan segala bencana itu. Relevan bukan sebatas penjelasannya yang adil dan bijaksana dalam menempatkan kodrat manusia (theodice) yang dihubungkan dengan alam atau lingkungannya dan di sisi lain dengan keberadaan bencana itu, karena bagaimanapun segala bencana itu terjadi oleh karena ulahtangan manusia itu sendiri. Teologi qadariah juga relevan oleh sebab dapat menghindarkan manusia dari mitologi-mitologi sosial yang biasanya merebak dan akhirnya membawa pada kesesatan dan kegelapan alam pikiran manusia dalam melihat segala bencana.

Teologi itu pada prinsipnya ingin menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak untuk berbuat sebebas-bebasnya (free will), dan dia harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang sudah diperbuatnya. Maka dari sisi itu, jika ada banyak bencana datang bertubi-tubi, sebetulnya bencana itu merupakan cerminan dan seakan-akan mempertanyakan sudah berbuat dan bertindak apa saja manusia di bumi ini? Berbuat dan bertindak bukan dalam pengertian manusia telah melakukan dosa-dosa lalu kemudian Tuhan murka dan menimpakan bencana. Tapi lebih karena tindakan dan perbuatan manusia yang dilakukan atas alam dan lingkungan ini, seperti pembangunan yang tak terkontrol dan tak terencana secara matang, pengeboran atas kekayaan perut bumi yang semena-mena, pengerukan pasir laut dalam skala yang cukup massif, dan sebagainya. Segala tindakan dan perbuatan itulah yang kemudian lambat laun akan membuat murka alam dan lingkungan ini, sehingga segala bencana itu tak bisa terhindarkan lagi.

Hal itu sesungguhnya sesuai seperti tersirat dalam kitab suci sendiri, yang secara bebas berbunyi bahwa kerusakan di darat dan di laut yang tampak itu disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Maka sebagai akibat dari perbuatannya (ditimpakanlah bencana), supaya manusia merasakan sebagian dari ulah dan perbuatannya itu agar mereka kembali ke jalan yang benar (al-Quran, 30, 41). Jelaslah bahwa segala bencana itu tak lain dan tak bukan karena sebenarnya diakibatkan oleh kita sendiri sebagai manusia. Banyak dari kita yang tidak bertanggungjawab terhadap pengelolaan alam dan lingkungan ini. Berhentilah kita menyalahkan sesuatu yang ada di luar kita, seperti Tuhan misalnya. Bahkan menurut Ignaz Goldziher (1991), oleh karena ulah tangan manusia itu sendiri, maka manusiapun sesungguhnya dilarang untuk menyalahkan Setan sekalipun. Setan menolak dimintai pertanggungjawabannya pada hari akhir nanti oleh karena kesalahan dan dosa perbuatan manusia.

Teologi Bumi

Hassan Hanafi dalam karyanya Religion, Ideology, and Developmentalism (1990) menawarkan apa yang dikenal sebagai teologi untuk memperlakukan bumi ini. Bagaimana semestinya bumi ini diperlakukan? Menurut Hanafi, bumi merupakan ciptaan Tuhan yang harus dikelola manusia secara baik dan benar. Tak ada satupun manusia yang sesungguhnya berhak mengklaim memiliki barang sejengkalpun terhadap bumi ini, karena bumi ini adalah milik-Nya. Oleh karenanya, tak dibenarkan jika ada manusia yang arogan ketika merasa memiliki tanah di bumi ini. Arogansi dalam pengertian, misalnya, ketika manusia merasa memiliki jengkal tanah di bumi, lalu dia berbuat seenaknya sendiri; mengebor, mengeruk, mengeksploitasi, tanpa memikirkan apa akibatnya. Juga arogansi seperti, oleh karena manusia hidup di alam dan lingkungan ini, lalu dia seenaknya mengotori dan mencemari alam dan lingkungan dengan polusi serta berbagai perbuatan lainnya yang sesungguhnya akan merusak bumi.

Sudah saatnya manusia kembali pada ajaran, jalan dan cara berpikir yang benar, yang sesuai dengan akidah serta kaidah yang rasional. Teologi selama ini juga sangat jarang diperkenalkan oleh para penceramah keagamaan melalui pendekatan yang direlevansikan dengan alam dan lingkungan. Seakan-akan tak ada kaitan antara teologi keagamaan dan alam serta lingkungan. Jarang umat beragama menyentuh persoalan itu. Padahal sesungguhnya sebagai konsekuensi dari teologi itu, umat beragama semestinya mengimplementasikannya ke seluruh aspek dalam kehidupan, tak terkecuali pula dengan masalah-masalah alam dan lingkungannya (environmentalism).

Pada tahun 1902, seorang filsuf dari Amerika, William James, meluncurkan karya berjudul The Variety of Religious Experience, dia mengatakan bahwa sesungguhnya implementasi dari teologi agama itu harus dibuktikan dalam kehidupan nyata. Iman itu menurutnya harus diaktualisasi secara konkret dan faktual, bukan hanya sebatas yakin dan percaya pada Tuhan, tapi harus ada, apa bukti dari keImanan kepada Tuhan itu? Dari sisi itu menurutnya, seseorang yang misalnya bertaubat, sesungguhnya bertaubat tak cukup hanya memohon ampun pada Tuhan, tapi yang melakukan taubat itu juga harus melakukan kebaikan-kebaikan sebagai implementasi dari taubatnya.

Jika selama ini kita menganggap kaum beragama, maka sudah semestinya teologi agama kita tak hanya cukup sampai pada keyakinan, namun tak ada aktualisasinya dalam kehidupan. Sehingga misalnya, kita mengaku bahwa kita orang beragama tapi perbuatan kita masih mencemari polusi udara, membuang sampah sembarangan, mengeksploitasi bumi secara semena-mena, dan sebagainya. Perbuatan dan tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh orang beragama. Saatnya kita membumikan teologi agama ini dalam realitas dan praksis kehidupan. Agama yang mengajarkan kebaikan-kebaikan itu harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehingga pada akhirnya kita akan dapat terhindar dari segala marabahaya dan bencana ini.

Ismatillah A. Nu’ad, penulis buku Fundamentalisme Progresif: Menuju Era Baru Dunia Islam

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. zackyku said, on November 27, 2008 at 5:44 am

    aku tambahin blogmu dalam blogku ya… suwun

  2. Ariss said, on March 29, 2009 at 4:56 am

    Idem, Mas Nu’ad.
    Adalah perilaku yang ambivalen ketika nilai2 teologi/agama tidak ditransformasikan ke dalam kehidupan sosial, sebagaimana meminjam istilah Mas Ulil-Abshar Abdalla, “Sekularisme Sukarela”, di mana ketika umat berhadapan dengan hal-hal profan, umat cenderung diam hanya karena tak ada dalil-dalil eksplisit tentang alam dan lingkungan. Sedangkan ketika berjumpa dengan masalah-masalah berbau agama semisal jilbab, zina, nabi baru, umat kebakaran jenggot dan resist karena masalah-masalah tersebut secara eksplisit banyak disinggung dalam kitab suci.
    .
    Tapi saya mau bertanya dulu. Apakah teologi, yang notabene adalah penalaran yang lokus kajiannya seputar wilayah Ketuhanan yang sakral, dibumikan? Saya kadung khawatir juga jika teologi harus dimutasikan menjadi antropologi, dan pandangan teosentris harus berubah menjadi antroposentris, sebab muatan-muatan sakral yang ada padanya, akan menguap jika harus didudukkan dengan hal-hal duniawi.
    .
    Correct me if I wrong.
    .
    Salam hangat dari Bandung.


Leave a Reply