Lembaga Survei dalam Sorotan
Ismatillah A. Nu’ad*
Dewasa ini, tak sedikit lembaga survei di Indonesia eksis melakukan polling-polling baik untuk Pemilu Legislatif maupun Pilpres. Sebut saja seperti LSI, LP3ES, LSN, Indo Barometer dan LRI. Begitu pula pada Pemilu-pemilu lokal untuk memilih Gubernur maupun Bupati, lembaga survei selalu berada di garda depan untuk melakukan polling. Pendeknya, semua lembaga survei naik daun seiring peranannya yang selain bisa dikatakan baru, namun juga diminati oleh tim-tim sukses baik dari Parpol atau calon-calon pemimpin.
Popularitas lembaga survei itu juga diikuti dengan kontroversi yang menyelimutinya. Katakan, misalnya, masyarakat luas menganggap lembaga itu tidak netral dari politic of interest tim sukses untuk memenangkan pemilihan. Selain itu, kinerja lembaga survei dianggap hanya menjadi the opinion makers, yang hendak mempengaruhi pemilih kepada salah satu Parpol maupun calon pemimpin. Tak ayal, lembaga survei bukan malah menumbuhkan iklim demokratisasi publik, melainkan menebar kebohongan publik lewat hasil-hasil survei maupun polling yang dibuatnya.
Di Amerika sendiri, sebagai negara bapak demokrasi, kontroversi lembaga survei ternyata juga terjadi. Lembaga survey dianggap lebih tertarik pada industrialisasi dan bisnis atau pembentukan opini publik dengan menarik perhatian media massa ketimbang mengungkap opini publik yang sesungguhnya. Salah satu lembaga survei terbesar di AS bernama Gallup Poll, yang dianggap sebagai think-thank pembentuk opini publik lewat survei maupun polling-polling-nya. Gallup ditengarai berselingkuh dengan kekuasaan yang menginginkan tercapainya kesuksesan politik di negara Paman Sam.
Buku berjudul The Opinion Makers: An Insider Exposes The Truth Behind The Polls ini ditulis oleh David W Moore. David adalah mantan orang dalam Gallup Poll yang seakan-akan berbalik arah (turn around) menguliti lembaga survei paling kontroversial itu. Buku ini nyaris mirip dengan karya John Perkins (Confession of an Economic Hitman), yakni kesaksian orang dalam yang mencoba “bertaubat” lalu mendeskripsikan kebobrokan lembaga yang semula menjadi tempat kerjanya.
David bekerja pada Gallup sejak Maret 1993 sampai April 2006. Pada tahun 2008, buku The Opinion Makers terbit pertama kali di AS, dan langsung mendapat respon dari para penggiat lembaga-lembaga survei di sana. David dianggap telah menjilat ludahnya sendiri, karena mengisahkan kinerjanya selama ini. Kontroversi Gallup Poll saat David masih bekerja adalah sewaktu Konvensi Partai Republik, dimana saat itu Bush unggul 3 persen, lalu naik 7 persen setelah konvensi, kemudian bertambah lagi 6 persen sepuluh hari berikutnya hingga akhirnya mengungguli elektabilitas Senator John Kerry dari Partai Demokrat dengan 55 persen versus 42 persen.
Buku ini patut menjadi renungan bagi Lembaga survei di Indonesia, supaya melakukan kinerja secara lebih profesional dan bersikap independen. Satu sisi masyarakat Indonesia masih membutuhkan lembaga survei, sisi lain kepercayaan itu hendaknya tidak dipersalahgunakan oleh lembaga survei.***
Ismatillah A. Nu’ad, peminat Historiografi Indonesia Modern.
leave a comment