Mbah Surip dan Semiotika Kejujuran
Ismatillah A. Nu’ad*
Pelantun lagu tak gendong, Mbah Surip (60) telah berpulang ke rumah persinggahan terakhirnya. Seperti berita kematian (obituary) lazimnya, banyak orang tercengangah saat mendengar meninggalnya Mbah Surip pada Selasa (4/8/2009) pagi menjelang siang pukul 10:30 WIB. Padahal Mbah Surip baru sekejap menikmati hasil jerih payahnya sebagai seorang seniman jalanan.
Dua lagunya, tak gendong dan bangun tidur, laris manis terpasang sebagai nada sambung pribadi (NSP) di hampir setiap handphone. Seperti dikabarkan berita entertainment, omset Mbah Surip mencapai milyaran rupiah dari NSP lagu tak gendong dan bangun tidur. Saat diwawancarai salah satu TV swasta, Mbah Surip mengaku baru bisa membeli rumah berkat omset lagunya itu. Tahun ini memang tahun hokinya Mbah Surip. Meski Tuhan telah mengatur skenario bagi perjalanan hidupnya.
Pria tua berambut gimbal yang meniru gaya Bob Marley ini, pernah mengaku masih melajang. Sebelum memiliki rumah sendiri, rumah singgah Mbah Surip adalah tempat-tempat dimana biasanya para seniman berkumpul, seperti di Bulungan Blok-M, pasar seni Ancol, dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Tampangnya kerap kali muncul manakala Emha Ainun Najib (Cak Nun) menggelar hajatan Kenduri Cinta di TIM. Mbah Surip selalu mentas lewat lagu-lagunya yang menggelitik, lucu, polos, namun penuh dengan kejujuran. Kadang dalam lagu Mbah Surip menyentil perilaku para elit politik di negeri ini yang cenderung membohongi rakyat dan di sisi lain menggadaikan kejujurannya demi keuntungan pribadi dan golongan.
Kejujuran, itulah mungkin salah satu legacy Mbah Surip. Kejujuran nampaknya sangat penting ditumbuhkan dalam masyarakat ditengah perilaku elit yang kian hari kian menggadaikan kejujurannya. Mbah Surip menjadi semacam simbol semiotik yang merepresentasikan entitas apa adanya, tak berpura-pura, dan tak berwajah ganda. Ini tentunya berbanding terbalik dengan perilaku para elit, yang terkadang selalu berteriak atas nama kepentingan rakyat, tapi kenyataannya hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. Di depan halayak, para elit seringkali mengobral janji-janji manis, meskipun sebenarnya bertentangan dengan nuraninya. Itulah perwujudan dari adanya ketidakjujuran dan paradox yang menggelayuti sebagian besar elit di tubuh bangsa ini.
Kita tentu masih ingat, misalnya, peristiwa paska Pemilu legislatif lalu, dimana tak sedikit jumlahnya para calon anggota legislatif yang mengidap stress, depresi, menghuni kamar-kamar rumah sakit jiwa bahkan hingga ada yang bunuh diri. Itu terjadi karena dipicu oleh rasa ingin berkuasa semata, siap menang tapi tak mempersiapkan kekalahannya. Modal besar telah digelontorkan, berbagai cara dan siasat sudah dilakukan, namun hasilnya nihil dan mengecewakan. Mereka telah menjual ketidakjujuran pada rakyat lewat janji-janji bak fatamorgana. Jika mau jujur, sebagian besar dari mereka sebenarnya tak layak menjadi calon anggota legislatif karena tak memiliki kemampuan, mutu dan akuntabilitas.
Benar kiranya jika Michel Foucault dalam The History of Madness (2006) menyelisik sejarah rumah sakit-rumah sakit jiwa. Menurutnya, dibalik rumah sakit jiwa sebenarnya terdapat sejarah kelam jejak-langkah peradaban umat manusia. Di tempat-tempat itu terdapat kisah-kisah kejahatan, keserakahan, kerakusan, kemunafikan, dan depresi umat manusia akibat sepak-terjang demi meraih kekuasaan semata. Analisa-filosofis Foucoult itu seraya melegitimasi fenomena perilaku para elit negeri ini yang terjebak hanya pada kekuasaan semata, sehingga manakala kekuasaan tak dapat teraih akhirnya depresi menghinggapinya.
Kata kunci sebenarnya adalah, masihkah kejujuran eksis dilubuk hati nurani kita? Apakah kejujuran masih menjadi bagian terpenting manakala para elit di negeri ini menjalankan roda kekuasaannya? Sebab kita masih meyakini, jika kejujuran menjadi bagian penting sebagai alat penentu kebijakan, niscaya bangsa ini tak terpelanting saat menghadapi krisis. Kejujuran jualah yang sebenarnya dapat menyelamatkan bangsa ini dari penyakit korupsi yang kian mewabah. Ia pula yang sesungguhnya bisa mengendapkan hasrat bagi masyarakat yang tengah sakit karena punya keinginan yang besar untuk berkuasa, tapi tak memiliki kesanggupan maupun akuntabilitas yang kuat untuk memimpin.
Mengapa kejujuran sangat penting dan harus menjadi pedoman bagi sebuah bangsa? Karena tak ada sejarah bangsa-bangsa besar yang terlahir dari ketidakjujuran, justru ketidakjujuran lah yang membuat bangsa yang besar menjadi luluh lantak. Apalah jadinya jika bangsa ini melestarikan dan melanggengkan ketidakjujuran, mungkin tinggal menunggu hitungan bandul-waktu hingga akhirnya sampailah bangsa ini pada kehancurannya. Karena dalam ketidakjujuran sebagai antitesa dari kejujuran, merepresentasi sebentuk terpecahnya nilai-nilai kebenaran. Sementara kebenaran sudah semestinya menjadi pegangan untuk menuju kehidupan yang baik.
Dari titik ini, dalam bahasa semiotika Charles Sanders Peirce (1960), salah satu bapak semiotika klasik, Mbah Surip menjadi ikon semiotika kejujuran. Mbah Surip menjadi tanda sekaligus semangat bahwa masih ada kejujuran dalam tubuh bangsa ini. Tinggal sudah sejauhmana semangat dari kejujuran Mbah Surip itu bisa menjadi virus yang mensuspect setiap hati manusia Indonesia, sehingga akhirnya kejujuran dapat terakumulasi secara massif. Lewat kepopuleran Mbah Surip dewasa ini, dia seakan menjadi duta kejujuran bagi halayak luas. Semoga saja masyarakat sebagai audiens, menangkap pesan substansial dari Mbah Surip sebagai ikon semiotika kejujuran itu.
Mbah Surip boleh saja meninggalkan kita, tapi kita yakin spirit kejujurannya masih tetap melekat di setiap hati sanubari. Mbah Surip sebagai ikon semiotika hanya menjadi bagian partikular dari kejujuran, sementara kejujuran itu sendiri adalah hal universal, oleh karenanya bersifat abadi menjadi bagian penting yang akan terus eksis ditengah-tengah kehidupan. Ibarat lagu the show must go on, Mbah Surip memang telah tiada, tapi kejujuran harus tetap dilanggengkan dan mesti diaktualisasi dalam kehidupan.***
Ismatillah A. Nu’ad, peminat Historiografi Indonesia Modern.
leave a comment