Home

Kebudayaan Paska W.S Rendra

Posted in biography by ismatillah on August 19, 2009

rendra2Ismatillah A. Nu’ad*

Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. (W.S Rendra, Megatruh, 1997)

Masyarakat Indonesia kehilangan budayawan besar, seorang begawan budaya Willibrordus Surendra Broto Rendra (1935-2009) atau yang dikenal sebagai W.S Rendra yang menghembuskan nafas terakhir pada Kamis (6/8) sekitar pukul 21:30 WIB. Selama ini, Rendra terkenal lewat karya-karya sajak, drama dan puisi. Yang paling kontroversial seperti Sajak Sepotong Lisong (ITB 1977) dimana pernah diberangus pemerintah Orde Baru, dan naskah dramanya yang populer berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), sedangkan puisinya yang berkesan berjudul Megatruh (1997) seperti telah dikutip di atas. (more…)

Mbah Surip dan Semiotika Kejujuran

Posted in biography by ismatillah on August 7, 2009

mbah-suripIsmatillah A. Nu’ad*

Pelantun lagu tak gendong, Mbah Surip (60) telah berpulang ke rumah persinggahan terakhirnya. Seperti berita kematian (obituary) lazimnya, banyak orang tercengangah saat mendengar meninggalnya Mbah Surip pada Selasa (4/8/2009) pagi menjelang siang pukul 10:30 WIB. Padahal Mbah Surip baru sekejap menikmati hasil jerih payahnya sebagai seorang seniman jalanan.

Dua lagunya, tak gendong dan bangun tidur, laris manis terpasang sebagai nada sambung pribadi (NSP) di hampir setiap handphone. Seperti dikabarkan berita entertainment, omset Mbah Surip mencapai milyaran rupiah dari NSP lagu tak gendong dan bangun tidur. Saat diwawancarai salah satu TV swasta, Mbah Surip mengaku baru bisa membeli rumah berkat omset lagunya itu. Tahun ini memang tahun hokinya Mbah Surip. Meski Tuhan telah mengatur skenario bagi perjalanan hidupnya. (more…)

Fatsoen Beragama Warisan Cak Nur

Posted in biography by ismatillah on October 23, 2008
sumber gambar:sctv/repro

sumber gambar:sctv/repro

Ismatillah A. Nu’ad*

Ethics is to improve our lives, and therefore its principal concern is the nature of human well-being. Aristotle, Nichomacean Ethics

SEKITAR tahun 2001, pada malam itu untuk kesekian kalinya saya mengikuti KKA Paramadina di Hotel Four Season, Kuningan. Ketika itu Nurcholish Madjid (Cak Nur) berkesempatan hadir untuk mengisi kajian sebagai pendamping dari pembicara yang lain. Itulah pertama kali secara pribadi, saya bisa bertemu dan mendengarkan diskusi keagamaan bersama Cak Nur secara langsung. Sebelumnya, saya mengenal Cak Nur lewat tulisan dalam buku-buku karyanya, atau mendengar kebesaran namanya di setiap diskusi akademis menyangkut gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Kesan pertama ketika mengikuti dan mendengarkan Cak Nur dalam diskusi, ia adalah sesosok intelektual yang punya integritas dengan khazanah keislaman yang luas serta selalu direlevansikan dengan dimensi keindonesiaan. Cak Nur adalah tipikal intelektual yang tidak menggurui audiensnya, ia selalu menerima masukan, terbuka dengan pendapat serta pandangan orang lain. Hal terpenting, Cak Nur selalu menggunakan fatsoen (secara sederhana berarti etika) saat mengemukakan pandangan-pandangan keagamaannya.

(more…)

Peran Gusdur dalam Konflik PKB

Posted in biography by ismatillah on October 20, 2008
sumber gambar:anakbangsa69.wordpress.com

sumber gambar:anakbangsa69.wordpress.com

Ismatillah A. Nu’ad*

Konflik yang begitu vulgar ditubuh partai kebangkitan bangsa (PKB) yang melibatkan KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) sebagai ketua dewan tanfidz dan Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum partai, sungguh mengusik ketenangan warga Nahdliyyin pada umumnya. Meskipun NU dan PKB tak memiliki ikatan struktural, tapi antara keduanya bagaimanapun punya ikatan historik yang tak bisa begitu saja secara mudah dipisahkan (Nakamura, 2007). Karena itulah, mengapa adanya konflik tersebut sebenarnya secara tak langsung juga mengusik ketenangan warga nahdliyyin.

(more…)

Benazir Bhutto dan Masa Depan Demokrasi Pakistan

Posted in biography by ismatillah on October 20, 2008

sumber gambar:yeslove.happysoft.com

sumber gambar:yeslove.happysoft.com

Ismatillah A. Nu’ad*

Kekuatan Prodemokrasi di Pakistan paska kematian Benazir Bhutto dapat dipastikan mengalami stagnasi yang cukup penting. Pasalnya Bhutto sudah menjadi ikon demokrasi yang memiliki kharisma tersendiri. Perjuangannya untuk menegakan demokrasi dan menentang rejim militeristik tentu saja melawan arus. Itulah sebabnya, kematiannya diduga merupakan konspirasi rejim militer yang dibantu CIA. Keteguhan dan perjuangan Bhutto untuk menegakan demokrasi sungguh pekerjaan yang maha berat tapi sangat mulia (venture). Kemenangan Musharaf pada Pemilu Pakistan belum lama ini, bukan berarti pilihan rakyat Pakistan karena boleh jadi didalamnya telah terjadi kecurangan-kecurangan, rakyat Pakistan simpatik terhadap kepemimpinan Bhutto.

(more…)

Khatami dan Harapan Dialog Antarperadaban

Posted in biography by ismatillah on October 20, 2008

khatami2Ismatillah A. Nu’ad*

AMERIKA Serikat di bawah pemerintahan George W Bush kembali akan melakukan manuver politik di kawasan Timur Tengah. Setelah Irak ditundukkan, kini Iran diincar dengan dalih negeri itu masuk poros setan.

Tragedi 11 September 2001 telah melegitimasi berakhirnya kekuasaan Taliban di Afganistan. Taliban merupakan kelompok garis keras yang diindikasikan mempunyai kekuatan koalisi dengan jaringan Tanzim Al Qaeda yang dipimpin Osama bin Laden. Setelah Afganistan jatuh, akhirnya terbentuk pemerintahan boneka yang sekarang dipimpin Hamid Karzai.

Secara geopolitik, Iran telah berada dalam segi tiga amerikasentris, hegemoni intervensi AS terhadap pemerintahan baru Baghdad, Afganistan, dan Turki yang dimainkan oleh kepentingan politik Washington.

(more…)

Moralitas Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib

Posted in biography by ismatillah on October 20, 2008
repro

repro

Ismatillah A. Nu’ad*

Pemutaran perdana film Gie di Jakarta pada 14 Juli menyedot perhatian banyak aktivis mahasiswa. Bahkan sebelum film itu diluncurkan, diskursus tentang Catatan Seorang Demontsran kembali menyemarakkan diskusi-diskusi lesehan di kalangan aktivis. Lembaran-lembaran kisah dalam buku itu di reimagining, suatu pembacaan yang mungkin telah ditelaah empat atau lima tahun silam.
Satu hari sebelum peluncuran film Gie, terbetik di hati suatu pertanyaan: Apakah film itu benar-benar akan menggambarkan kisah yang otentik dalam Catatan Seorang Demonstran? Terutama gambaran-ideal antara pemikiran Soe Hok Gie dalam buku dan peran Nicholas Saputra yang bermain dalam Gie.
Mungkin si sutradara Riri Riza akan menjawab: Yang dituangkan dalam scene paling tidak ingin menggambarkan hiruk-pikuk sosok aktivis mahasiswa dekade 60-an dengan segala kritisisme dan keresahannya. Komentator yang kritis bisa bilang banyak kisah di film dan di buku Catatan Seorang Demonstran tak sinkron, namun sungguh benar film Gie menunjukan gambaran aktivis Indonesia yang kritis, gigih dalam idealisme dan moralitasnya.

(more…)

Tagged with: ,