Serangan Fajar Politik Maulid

sumber gambar:www.beritajakarta.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Menjelang Pemilu legislatif pada awal April mendatang, sudah banyak cara yang dilakukan para calon anggota legislatif (caleg) untuk menarik simpati massa, dari yang formal dan tidak melanggar aturan sampai melakukan tindakan yang kurang lazim. Dari yang berkesan, sampai yang kurang atau tidak berkesan sama sekali. Momen peringatan Maulid Nabi kali ini nampaknya merupakan ladang basah bagi para caleg untuk mempromosikan pencalonan dirinya supaya bisa duduk di kursi legislatif. Para caleg itu biasanya akan mencheck list daftar majlis taklim (atau juga Masjid) yang berada di wilayah pemilihan mereka dan memastikan apakah kedua tempat dimana biasanya kaum muslim menyimpuhkan diri itu akan mengadakan peringatan Maulid. Jika ada sinyal positif, maka para caleg buru-buru membooking panitia penyelenggaranya untuk memastikan kedatangan dirinya, dan dia berani membayar sejumlah materi beserta cinderamata untuk semua hadirin. (more…)
Membongkar Anatomi Separatisme

sumber gambar:hizbuttahrir.co.id
Ismatillah A. Nu’ad*
Pada tiap bulan Agustus, isu separatisme sering mencuat kepermukaan, apalagi, misalnya, dengan beberapa kejadian yang dilakukan oleh aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM), dari kasus pengibaran bendera secara terang-terangan, upacara masyarakat adat papua yang diselingi dengan tarian kemerdekaan, hingga adanya isu bekingan AS terhadap OPM. Pertanyaannya, mungkinkah rentetan kejadian itu memiliki akar yang kuat pada masyarakat Papua sendiri yang menginginkan pemisahan, sehingga patut dirisaukan oleh negara dan bangsa Indonesia, atau hanya sekedar euforia yang dilakukan segelintir oknum, yang tujuannya hanya mengungkit sentimen separatisme. (more…)
Refleksi Kebebasan Beragama

sumber gambar:www.religious-freedoms.org
Ismatillah A. Nu’ad*
INDONESIA sebagai negara-bangsa masih banyak diwarnai ketegangan-ketegangan yang melibatkan agama dan mengabaikan nilai-nilai perbedaan. Kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama ramai mengemuka. Bahkan, kekerasan tersebut juga mencederai kalangan pembela hak kebebasan beragama (human rights defender). Sebaliknya sikap saling toleran nampaknya sangat penting untuk dimunculkan kepermukaan. Laporan akhir tahun 2008 The Wahid Institute yang dikeluarkan kemarin ini, misalnya, menyebutkan sejumlah pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang terjadi, salahnya kurang ada tindakan dari aparat kepolisian sehingga bagi para pelanggar mengulangi lagi tindakan anarkisnya. (more…)
Teologi Ramah Lingkungan
sumber gambar:www.edopter.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Banyak bencana alam silih berganti menimpa negeri ini, bahkan akibat seringnya terjadi bencana, masyarakat yang sudah merasa skeptik menghadapinya, merasa stres berat, phobia, dan tekanan psikis. Ada fenomena apakah gerangan? Polemik teologi di masyarakat seputar bencana-bencana itupun akhirnya merebak. Tak kurang pula banyak penceramah keagamaan mulai mencari-cari jawabannya, mengapa fenomena bencana itu terus terjadi? Tapi polemik dan jawaban dari semuanya rata-rata menggariskan pada teologi paksaan Tuhan (jabariah), yang menyatakan bahwa Tuhan tengah murka pada penduduk negeri ini yang rajin dan pandai membuat dan memelihara dosa-dosa.
Bahasa Agama dan Penafsiran Wahyu Ilahi

sumber gambar:islamicidentity.blogspot.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Masyarakat religius menganggap spritiualitas yang sejati bersifat sakral dan untouchable. Sehingga baginya, simbol-simbol seperti dalam setiap agama manapun; mengelilingi simbolitas Ka’bah dalam Islam, melakukan ritualitas terhadap suatu yang dianggap suci seperti dilakukan agama Hindu atau Budha, menggunakan simbolitas salib sebagai lambang kesucian seperti dalam Kristen, merupakan pencarian spiritualitas yang sakral itu. (Mircea Eliade, Sacred and Profan, 1989)
Bahasa agama yang tertuang dalam teks-teks suci itu bersifat sakral. Namun meski bersifat sakral bukan berarti “tangan-tangan” manusia tak bisa menjamahnya lewat suatu penafsiran terhadapnya. Justru ketika teks-teks itu mendapat penafsiran, maka di situlah sesungguhnya bahasa agama itu dapat menjadi universal, kontekstual dan relevan sesuai dengan perkembangan sejarah manusia.
Menggugat Nasionalisme Kaum Intelektual

sumber gambar:wahyudidjafar.wordpress.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Di tengah kehidupan negara-bangsa, peranan kaum intelektual sangat dibutuhkan dan kontribusinya begitu besar bagi pertumbuhan perubahan. Revolusi sosial yang diteriakan dan diaktualisasi massa, semula digagas dan ditentukan oleh peranan kaum intelektual.
Di bidang sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, teknologi, dan semua dimensi yang dibutuhkan dalam masyarakat, keterlibatan intensif kaum intelektual didalamnya menjadi semacam kemestian. Kaum intelektual bukanlah sebuah mitos sosial, melainkan realita yang hegemonik.
Perda Syariat yang Mengancam Demokratisasi

sumber gambar:farid1924.files.wordpress.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Munculnya peraturan daerah (Perda) yang mengacu pada Syariat Islam di beberapa daerah seperti di Tangerang, Indramayu dan Jember, segera menimbulkan persoalan bagi negara-bangsa demokratis. Tidak hanya karena Perda itu telah melanggar hirarki konstitusi, melainkan juga karena Perda itu sangat superfisial dan tidak substansial seperti aturan memakai baju koko setiap hari Jumat bagi pria, perempuan wajib berjilbab, menunda pekerjaan saat azan tiba, larangan perempuan keluar malam, dan sebagainya. Sesungguhnya kasus itu tak perlu terjadi jika pemerintah daerah memiliki komitmen pada aturan main, bahwa negara-bangsa ini adalah negara hukum (rechtstaat) dan kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang multikultural.
Mendambakan Amerika (yang) Beradab

sumber gambar:www.christopherhawkins.com
Ismatillah A. Nu’ad
Kebijakan politik luar negeri Amerika terhadap negara-negara Islam sudah pada titik ekstrem yang sangat mengkhawatirkan. Peranan Presiden Bush yang terobsesi untuk menyelesaikan segala masalah dengan jalan perang, bukan dengan jalan dialog, tak bisa dilepaskan dengan persoalan itu. Di Amerika sendiri orang seperti Bush dicemooh oleh pelbagai pihak karena kelakuannya; ada yang menyebutnya sebagai criminal, conservative, wanted dead or alive, bahkan disebut idiot atau psycopat. Tapi kenyataannya segala cemoohan itu tak mempengaruhi barang sejengkalpun, Bush terus melangkah secara pasti, seakan-akan kebijakan politiknya sudah benar.
Islam dan Politik Luar Negeri Indonesia

sumber gambar:www.deplujunior.org
Ismatillah A. Nu’ad
Dengan mengutip Hasjim Djalal dan Sofyan Wanandi, Azyumardi Azra dalam karyanya Indonesia, Islam and Democracy (2006:90) menyebut bahwa Islam tidak menjadi faktor penting yang berpengaruh dalam kebijakan politik luar negeri Indonesia, meskipun masyarakatnya 89 persen lebih beragama Islam.
Kitab Suci, Teks dan Makna

sumber gambar:bostonglobe.longjaunt.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Setiap agama pasti memiliki kitab suci yang sakral. Setiap umat beragama berkewajiban untuk mengetahui, membaca, memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran-ajaran kitab sucinya. Dalam Islam ada al-Qur’an, ada Bible bagi umat Kristiani, ada Torah bagi umat Yahudi, ada Veda dan Tripitaka bagi umat Hindu dan Budha, serta begitu pula dengan agama-agama lain yang Nonmainstream tak banyak diketahui orang, pasti memiliki kitab sucinya. Kitab suci itu menurut Mircea Eliade dalam Sacred and Profane (1999) berbeda dengan teks-teks bacaan biasa yang dikarang oleh manusia, ia memiliki nilai sakral atau bahkan diyakini sebagai ujaran Tuhan untuk pegangan umat manusia di dunia. Maka terkadang untuk menghormati kesakralannya itu, bagi umat Islam, misalnya, sebelum memegangnya diharuskan untuk mensucikan diri terlebih dahulu.
leave a comment