Islam Indonesia (tetap) Moderat

sumber gambar:antimui.wordpress.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Hasil penelitian Lembaga Survey Indonesia (LSI) yang baru direlease kemarin ini menyebutkan bahwa jika Pemilu dilakukan saat ini, hanya 9% umat Islam di Indonesia yang memilih partai Islam. Sedangkan lainnya 43% mendukung partai Sekuler, dan 5% tertutup bagi partai Islam. Temuan lainnya menyebutkan bahwa 82% umat Islam percaya terhadap demokrasi. Sedangkan bagian kecilnya yang mendukung Syariah hanya diwakili oleh beberapa gerakan Islam seperti Jemaah Islam (17,4%), Majelis Mujahidin Indonesia (16,1%), dan Hizbut Tahrir Indonesia (7,2%). Kemudian hanya 9% umat Islam yang masih memiliki pemahaman konservatif menyebutkan bahwa tragedi bom Bali merupakan Jihad untuk mempertahankan Islam, sedangkan mayoritas umat Islam (80,7%) mengutuk tragedi itu.
Mitos Keistimewaan Agama

sumber gambar:godspace.wordpress.com
Ismatillah A. Nu’ad*
Kedatangan dua tokoh pluralis, Farid Essack dan Paul F. Knitter ke Jakarta yang di undang International Center for Islam and Pluralism (ICIP), diantaranya untuk mempresentasikan makalah dalam diskusi bertajuk “Tantangan Pluralisme di Dunia Global” pada Jumat (2/6/2006) hal itu semakin mempertegas peran penting pluralisme khususnya di Indonesia sebagai negara-bangsa yang multiagama dan multikultural. Indonesia merupakan negara-bangsa yang sangat rentan menghadapi konflik bernuansa agama seperti di Poso, sebagai akibat adanya perbedaan itu, salahnya umat beragama dari masing-masing kelompok masih sangat minim tersentuh pendidikan dan pemahaman tentang arti penting penghormatan dari satu agama kepada agama lainnya, sehingga hal-hal seperti itu agak menyulitkan bagi upaya pembumian pluralisme.
Menuju Masyarakat (yang) Toleran
sumber gambar:people.tribe.net
Ismatillah A. Nu’ad*
Akhir-akhir ini ada suatu symptom yang berbahaya, yaitu munculnya kekuatan sektarian dalam sebuah republik multikultural bernama Indonesia. Kekuatan itu beroperasi secara kultural maupun struktural, dua buah wilayah yang sudah lazim dianalisis dalam teori sosial-politik pada umumnya. Fawaz A. Gerges dalam karyanya America and Political Islam (1999), misalnya, pernah menggunakan pola “patron client” semacam itu ketika menganalisis kebijakan politik luar negeri Amerika terhadap negara-bangsa Islam. Kondisi itu bukanlah suatu rekaan, melainkan kenyataan faktuil yang tengah terjadi diwilayah negara-bangsa kita.
Membaca Koran (dengan) Pelbagai Pendekatan

sumber gambar:ibn1brahim.wordpress.com
Ismatillah A. Nu’ad*
“Wa idza quri’a al-Qur’an fastami’u lahu wa ansitu la’alakum turhamun” (Dan jika Quran dibaca, dengarkanlah dan perhatikanlah agar kamu sekalian mendapatkan rahmat) [QS, 7:204]
Setelah Tuhan tak berfirman selama 6 abad lamanya dari jarak pewahyuan paska Nabi Isa, akhirnya di Gua Hira (Mekah) untuk pertamakalinya Tuhan berfirman lagi lewat perantara Jibril ke Nabi Muhammad. Peristiwa itu terjadi pada 17 Ramadhan, dan Ia di situ menekankan pentingnya membaca (iqra’), memuliakanNya, mencari pengetahuan, mengurai fenomena alam dan kemanusiaan.
1 comment